Tak Perlu Retorika, Pemimpin Harus Berbicara Dengan Gaya Rakyat

Musim Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tentu semua pasangan calon menjanjikan kesejahteraan rakyat. Tidak ada yang lebih menarik selain menebar janji janji manis, menawarkan mimpi-mimpi utopis. Namun, tanpa garansi untuk merealisasikan semua janji-janji itu.

Saya ingin bercerita. Konon, tahun 1913, salah seorang Datuk Matyoeda, Raja Kerajaan Lima Laras XII dalam sejarah kabupaten Batubara terkemuka meramalkan akan tiba masanya seorang pemimpin lahir dari pundak rakyat.

Pemimpin itu tanpa embel-embel politik praktid yang berlebihan, tanpa janji muluk-muluk, dan retorika yang apik. Tanpa gaya yang mencolok dengan ajudan di sana-sini setiap kali mengunjungi kampung-kampung.

Pemimpin itu bicara seadanya, tak perlu retorika dengan bahasa ilmiah yang sesungguhnya tak dimengerti oleh kebanyakan masyarakat. Pemimpin harus berbicara dengan gaya rakyat, yang mudah dipahami rakyat, dan mudah mempraktikkan janjinya. Bukankah pemimpin yang sesederhana ini merupakan cikal bakal pemimpin yang mumpuni untuk Kabupaten Batubara di masa depan?

Tampaknya, melihat dari empat pasangan calon Pilkada Batubara, sosok jenis ini ada pada pasangan Darwis. Mantan Setda Batubara tahun 2016 ini tak pernah bicara sok ilmiah.

Terlepas bagian dari intrik dalam berpolitik, cara-cara Drs Darwis MSI selama ini mendapatkan penggemar dan fans tidak bisa ditebak oleh siapa pun. Bahasa tubuh yang disuarakannya, tegas, lugas, santun dan tepat sasaran. Sesuai dengan apa yang diingkan warga Batubara yang haus pemimpin yang idaman, santun dan terpuji.

Apakah calon lain tidak memiliki sosok seperti ini? Tentu ada pada diri Khairil Anwar dan Harry Nugroho juga sering tampil seperti ini; berbicara seadanya dengan gaya rakyat, mudah dipahami rakyat, tanpa janji muluk-muluk, dan retorika yang apik. Tanpa gaya yang mencolok dengan ajudan di sana-sini. Namun, kesan yang sungguh-sungguh lebih terasa pada diri Darwis. Karena trik komunikasi publik yang disajikan bekas tokoh birokrat itu lebih terasa di hati masyarakat yang menjunjung tinggi nilai nilai adat istiadat dan budaya para leluhur terdahulu

Sekarang, tinggal menunggu. Akankah ramalan Sultan terakhir: Datuk Matyoeda, Raja Kerajaan Lima Laras XIII ini dapat
terbukti pada pilkada 27 Juni 2018 nanti? Pemimpin yang menang adalah pemimpin dari rakyat, untuk rakyat.

*Penulis adalah Aktivis dan Pemerhati Budaya Batubara, Sultan Iskandar/ Joni Iskandar
[*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.