Waspada ! Banyak ‘PEJABAT PENJILAT’ Usai Pilkada Batubara

Jurnalhariansumut.com – Usai sudah persoalan hiruk pikuk pilkada Batubara 2018. Terhitung 23 Juni 2018, Rm Harry Nugroho telah resmi kembali bertugas di meja kantor pemerintahan setempat. Dapat dikatakan, Harry adalah wakil Bupati Batubara keuda setelah, Gong Matua Siregar. Dan memasuki akhir tahun 2018 ini, Harry Nugroho akan segera menjadi Bupati generasi ke tiga untuk beberapa bulan kedepan.

Tentunya, dengan usia 69 tahun, Harry dimungkinkan tidak akan mampu dengan maksimal untuk mengurusi berbagai persoalan di pemerintahan yang sedang berada dalam devisit anggaran dibidang infrastruktur. Dengan demikian, peran, Sakti Alam Siregar sebagai Setda Batubara tanpa pendampingan wakil Bupati sangat diharapkan dapat membantu berjalannya roda pemerintahan dengan optimal dan maksimal.

Setda Batubara (sebelah Kiri)

Disinilah, peran Setda harus jeli mengevaluasi pejabat yang masuk dalam kabinet Harry maupun kabinat Bupati Terpilih untuk memudahkan berbagai persoalan yang ada di internal pemkab setempat. Artinya, Sakti, sudah saatnya segera membantu Plt Bupati maupun Bupati terpilih di kemudian harinya untuk melakukan bersih-bersih pejabat kotor dilingkungannya.

Bukan rahasia umum lagi kini terindikasi banyak kubu-kubuan antar pejabat. Ibarat sebuah kelompok gengstar, banyak yang ingin merebut kekuasaan. Demikian juga dilingkungan masing masing OPD banyak pejabat secara individu yang melakukan manuver membentuk kelompok dalam menargetkan posisi-posisi basah (Kadis/kaban) di beberapa OPD yang bakal sirna disebabkan usia yang memasuki tahap pensiun, semisal saut Siahan selaku kepala BKD, Djohansyah selaku Staf Ahli, Azijul kepala dinas pertanian dan Sailan Nasution selaku kadisnaker.

Agar mulus mendapat posisi basah itu tentunya para penjilat melalui pembisik-pembisik dilingkaran Harry Nugroho. Nah, para pembisik inilah sebenarnya yang harus diwaspadai. Kebanyakan, para PEJABAT PENJILAT’ rela menghamburkan uangnya untuk para pembisik dengan harapan namanya masuk sebagai kandidat terkuat dalam menduduki posisi basah di pemerintahan.

Dengan adanya aksi sekelompok ‘PEJABAT PENJILAT’ itu tidak mentutup kemungkinan akan mengotori pemerintahan setempat.

Sepertinya perlu diingat juga, bahwa aksi ‘PEJABAT PENJILAT’ ini sebenarnya cukup berbahaya masuk dalam kabinet sebuah kepala daerah yang sedang berada dalam penghujung transisi antara rezim lama dan baru yang dalam manuver-manuver mereka dapat menjadi bomerang bagi kepala daerah setelah 6 bulan Bupati terpilih, Ir Zahir Map dilantik.

Terlepas dari itu semua, plt Bupati Batubara yang kini tenggah kembali bertugas di meja orang nomor satu di daerah itu perlu mewaspadai aksi para ‘PEJABAT PENJILAT tersebut’. Pilihlah pejabat dikabinet OPD pertanian, Disnaker dan Badan Kepegawaiaan Daerah (BKD) beserta staf ahli yang sebentar lagi memasuki usia pensiun itu untuk benar benar diseleksi secara profesional dan piawai dibidangnya. Perlu diingat juga, biar bagaimanapun suksesi pembangunan daerah bukanlah berada digaris ditangan kepala daerah secara mutlak, namun berada di tangan pembantu-pembantunya sebagai pelaksana tugas, dalam hal ini Kepala Dinas (Kadis) dan kepala badan beserta beberapa eselon III A dan B yang sebulan kemudian akan memasuki tahap usia pensiun secara besar besaran.

***Penulis; Arwan Gibran Sayidin, Ketua Forum Mahasiswa Kawasan Ekonomi Khusus (FMKEK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.