Tiada Kawan dan Lawan Abadi, yang abadi hanyalah Kepentingan

Penulis: Zamal Setiawan, Direktur LBH CNI

“Tak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik. Yang abadi hanyalah kepentingan”.

Kalimat ini sering diucapkan bukan hanya oleh pengamat politik, juga para politisi untuk menggambarkan tak sejalannya ucapan dan tindakan para politisi di panggung politik. Inkonsistensi dalam dunia politik praktis mendapatkan pembenarannya melalui kalimat ‘magis’ itu.

Seperti postingan yang lalu lalang beberapa hari ini dalam berbagai grup social media. Para ‘penjual’ simbol agama di dunia politik mulai menjajakan sentimen agama untuk mengelabui warga dan masyarakat. Seolah mereka sedang berjuang mati-matian untuk membela kesucian agama, padahal yang ia bela sejatinya nafsu dan syahwat kekuasaan.

Salah satu isu yang dijajakan adalah seruan “Jangan pilih calon Bupati yang didukung partai penista agama!”, What? Isu yang laku keras dijajakan di Pilgub DKI itu kini mulai dijajakan kepada warga Batubara.

Tak adakah hal lain yang lebih rasional yang bisa dipertarungkan dalam kontestasi politik, semisal rekam jejak prestasi masa lalu para calon?

Publik yang mengikuti pemberitaan dengan cermat tentu saja tahu, bahwa di Pilbub Batubara tidak ada seruan “Jangan pilih calon Bupati yang didukung partai penista agama!” Mengapa? Karena dalam Pilbub kali ini, partai (yang merasa) pembela agama justru telah berkoalisi dan bekerjasama dengan partai (yang dituduh) sebagai penista agama dalam mengusung pasangan calon.

Di sana mereka melakukan ‘perselingkuhan politik’, di sini mereka bak orang suci yang sedang melawan para penista. Disini mereka teriak “Jangan pilih Cabub yang didukung penista agama”, di tempat lain mereka bekerjasama dengan kelompok yang mereka tuduh para ‘penista agama’.

Cukup dengan mengaktifkan akal sehat (mode-on), masyarakat mestinya dengan mudah membaca bahwa isu (pembela-penista) agama tak lebih dari sekedar komoditas/komoditi politik yang diperjualbelikan hanya untuk mengibuli orang-orang yang rada malas menggunakan akal sehatnya untuk berkopetensi.

Posisi ‘pembela’ dan ‘penista’ agama kini dengan mudah telah dipertukarkan, bukan karena sebab ideologi atau aqidah, tapi hanya karena faktor kepentingan. Ya… kepentingan bernama “syahwat kekuasaan”.

So, masih mau dibodohi? Nggak ah, kita masih waras kok

Semoga warga Batubara bisa lebih cerdas.

[*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.