Oknum Polisi Penganiaya Guru di Sumut Hanya Dituntut 6 Bulan Penjara

BATUBARA| jurnalhariansumut.com – Terdakwa kasus penganiayaan guru Agama Islam SMA Diponegoro Kisaran, AKP Edi Plantino hanya dituntut hukuman 6 bulan penjara. Pembacaan tuntutan tersebut dilakukan pada sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Asahan, Senin (28/05/2018).

Sebagaimana yang dilansir jangkau.com, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menilai AKP Edi Plantino terbukti melakukan tindak pidana penganiyaan terhadap guru Agama Islam SMA Diponegoro Kisaran Ahmad Zailani, M.PD.i.

Menuntut terdakwah dengan pasal 351 ayat (1) KUHP. supaya Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kisaran yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan:

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Edi Plantino dengan penjara selama 6 (enam) bulan, dikurangkan selama terdakwa berada dalam tahanan sementara,” ucap Jaksa Penuntut umum yang diketahui bernama Nuri Fitriani, SH.

Rendahnya tuntutan tersebut, sangat disesalkan oleh kuasa hukum korban, Zulham Rany, SH.

Ia mengatakan tuntutan JPU itu sangat meringankan terdakwa, padahal korban selain dianiaya secara fisik, juga dipermalukan dan dilecehkan di tempat umum yang disaksikan para Guru dan siswa.

“Apalagi penyebab penganiayaan yang dialami korban dalam rangka menjalankan tugasnya untuk membina karakter mulia siswa melalui kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan, kegiatan ini juga sejalan dengan Revolusi Mental Presiden Republik Indonesia yang harusnya didukung semua pihak,” Tuturnya kepada wartawan, Jumat (01/06/2018)

“Tuntutan Jaksa Penuntut Umum harusnya mencerminkan keadilan dengan menuntut terdakwa yang seberat-beratnya bukan yang seringan-ringannya,” ucapnya.

Untuk itu kita berharap kepada Majelis Hakim agar menegakkan hukum yang seadil-adilnya.

“Jika hukum tidak ditegakkan dengan seadil-adilnya dalam perkara ini akibatnya akan berdampak terhadap tugas dan profesi guru seluruh Indonesia kedepan, guru akan takut melaksanakan tugas dan profesinya untuk mendidik dan membina generasi penerus bangsa yang berakhlak dan berkarakter yang mulia,” tutur Zulham.

Rendahnya tuntutan jaksa tersebut, juga sangat disesalkan oleh Koordinator Lembaga Advokasi Umat Islam Islam Indonesia (LADUII) MUI kabupaten Asahan, Drs. H. Nummat Adham, SH, MA, yang selalu menghadiri jalannya persidangan.

Menurutnya tuntutan Jaksa yang hanya 6 bulan sama sekali tidak mencerminkan keadilan mengingat perbuatan tersangka dikenakan pasal 351 ayat 1 KUHP, yaitu penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan.

“Tuntutan ini sama sekali tidak akan menciptakan efek jera dan kesadaran kepada pelaku. Alangkah idealnya jika tuntutan lebih dari itu,” ucap Nummat Adham jumat (01/06/2018)

Ia menilai jika tuntutan seperti ini akan menimbulkan kecurigaan dan pemikiran yang negatif ditengah-tengah masyarakat.

Atas kasus ini, pihaknya akan terus memantau proses hukumnya di pengadilan agar penegakan hukum benar-benar berjalan dengan baik dan keadilan dapat ditegakkan.

“Ini kami lakukan agar guru dalam menjalankan tugas profesinya merasakan adanya perlindungan dan keadilan di negara Republik Indonesia,” tuturnya.

[Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.